Selain membahas promosi, Ato juga menyinggung dampak kebijakan efisiensi anggaran pemerintah yang berpengaruh terhadap tingkat okupansi hotel dan restoran. Berkurangnya kegiatan pemerintahan di hotel dan tempat wisata dinilai cukup terasa bagi pelaku usaha.
Meski demikian, Ato menilai efisiensi anggaran merupakan kondisi yang harus dihadapi bersama. “Situasi ekonomi sedang sulit, daya beli menurun, semua harus berhemat. Efisiensi ini jangan disalahkan, tapi dijadikan tantangan untuk mencari solusi melalui sinergi dan gotong royong,” ujarnya, Senin malam (26/1).
Sebagai langkah konkret, PHRI Garut menyiapkan lima program unggulan untuk mendorong geliat pariwisata daerah, yakni wisata menginap, wisata product knowledge, wisata kuliner, wisata budaya, dan wisata olahraga. Program tersebut dirancang untuk mengoptimalkan potensi lokal agar mampu menarik wisatawan dan meningkatkan okupansi.
“Garut punya hotel yang layak, produk kerajinan dan kuliner yang khas, budaya yang kuat, serta potensi wisata olahraga seperti kawasan Ngamplang. Semua ini harus digarap serius dan dikolaborasikan agar berdampak nyata bagi pariwisata,” pungkas Ato.
Editor : ii Solihin
Artikel Terkait
