JAKARTA, iNewsGarut.id – Peringatan Hari Buruh Sedunia (May Day) tahun ini menjadi momentum bagi Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) untuk menyuarakan keprihatinan terhadap kondisi industri media nasional yang tengah diterpa gelombang disrupsi besar.
IJTI menegaskan, maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor media, khususnya terhadap jurnalis, bukanlah jalan keluar yang tepat dalam menghadapi tekanan ekonomi industri. Langkah tersebut dinilai justru dapat melemahkan peran pers sebagai pilar keempat demokrasi.
Ketua Umum IJTI, Herik Kurniawan, menekankan bahwa jurnalis televisi memiliki fungsi strategis dalam menjaga hak masyarakat atas informasi yang akurat, independen, dan terpercaya.
“Jurnalis bukan sekadar pekerja media. Mereka adalah garda depan dalam memastikan publik tetap mendapatkan informasi yang benar. Jika jurnalis terus disingkirkan, demokrasi kita berada dalam ancaman serius,” tegas Herik melalui siaran pers di Jakarta, Jum'at (1/5/2026).
Menurut IJTI, tren efisiensi yang dilakukan sejumlah perusahaan media melalui pengurangan tenaga kerja berisiko merusak kualitas pemberitaan dan mempersempit ruang publik untuk memperoleh informasi yang kredibel.
Sikap Tegas IJTI:
1. Menolak PHK Sepihak
Perusahaan media diminta tidak menjadikan PHK massal sebagai solusi utama dalam menekan biaya operasional.
2. Mendorong Inovasi Bisnis Media
Pemilik media didesak mencari strategi bisnis baru yang adaptif dan berkelanjutan tanpa mengorbankan kesejahteraan jurnalis.
3. Menuntut Transparansi dan Dialog
Setiap kebijakan ketenagakerjaan harus dilakukan secara terbuka, adil, dan sesuai regulasi yang berlaku.
Selain itu, IJTI juga meminta pemerintah turut hadir menjaga keberlangsungan industri media nasional melalui kebijakan yang mendukung ekosistem pers yang sehat.
Dukungan berupa insentif dan perlindungan industri dinilai penting agar perusahaan media tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga tetap memberikan kehidupan yang layak bagi para pekerjanya.
Bagi IJTI, Hari Buruh bukan hanya soal perjuangan pekerja secara umum, tetapi juga pengingat bahwa keberadaan jurnalis yang sejahtera sangat menentukan kualitas demokrasi bangsa.
“Jangan sampai layar televisi kehilangan kejernihannya karena para jurnalis berintegritas tersingkir dari ruang redaksi,” tutup Herik.
Editor : ii Solihin
Artikel Terkait
