GARUT, iNewsGarut.id – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai memberikan dampak nyata bagi pelaku usaha ritel elektronik di Kabupaten Garut.
Kenaikan kurs membuat harga sejumlah produk elektronik, khususnya smartphone dan perangkat teknologi informasi (IT), mengalami lonjakan harga yang cukup signifikan.
Sales Area Manager Toko Elektronik Sehati Garut, Rida Rahmawati, mengatakan produk yang paling terdampak saat ini adalah smartphone dan berbagai perangkat IT yang sebagian besar masih bergantung pada komponen impor.
“Yang paling terasa dampaknya sekarang ada di kategori smartphone dan produk IT. Kenaikan harganya rata-rata berada di kisaran 30 sampai 40 persen,” kata Rida saat ditemui, Selasa (9/6/2026).
Menurutnya, kenaikan harga tidak serta merta menurunkan kebutuhan masyarakat terhadap perangkat elektronik. Namun, kondisi tersebut berdampak langsung pada kemampuan konsumen dalam melakukan pembelian.
Ia menjelaskan, kebutuhan masyarakat terhadap gadget, laptop, maupun perangkat penunjang aktivitas digital masih relatif tinggi. Hanya saja, banyak konsumen yang kini harus menyesuaikan pilihan dengan kondisi keuangan yang dimiliki.
“Kebutuhannya tetap ada, tetapi kemampuan daya belinya yang menurun. Jadi masyarakat lebih berhitung sebelum memutuskan membeli, “ ujarnya.
Perubahan perilaku konsumen pun mulai terlihat. Jika sebelumnya pelanggan datang dengan target spesifikasi tertentu, kini banyak yang memilih produk dengan spesifikasi lebih rendah demi menyesuaikan anggaran.
Kondisi tersebut juga membuat calon pembeli lebih aktif membandingkan harga dan mencari alternatif produk yang dinilai paling sesuai dengan kebutuhan serta kemampuan finansial mereka.
Di tengah kenaikan harga, tren pembelian secara kredit justru mengalami peningkatan. Rida menilai skema cicilan menjadi solusi yang banyak dipilih masyarakat agar tetap bisa memperoleh perangkat elektronik yang dibutuhkan tanpa harus mengeluarkan biaya besar sekaligus.
“Pembelian melalui kredit saat ini cenderung meningkat. Banyak konsumen yang memanfaatkan fasilitas cicilan agar tetap bisa memenuhi kebutuhan elektroniknya, “ ungkapnya.
Dari sisi bisnis, pelemahan rupiah turut berdampak pada penurunan jumlah transaksi harian. Berkurangnya konsumen yang melakukan pembelian membuat omzet penjualan ikut terpengaruh.
“Jumlah konsumen yang bertransaksi setiap hari berkurang dibandingkan kondisi normal. Tentunya ini berpengaruh terhadap penjualan,” katanya.
Untuk menjaga daya saing di tengah kondisi pasar yang menantang, pihak toko menerapkan sejumlah strategi. Selain memperkuat program pembiayaan melalui kredit dan cicilan, toko juga memperbanyak pilihan produk dengan variasi harga yang lebih beragam.
Langkah tersebut dilakukan agar konsumen tetap memiliki alternatif perangkat elektronik yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan ekonomi mereka.
Kami berupaya menghadirkan solusi pembiayaan yang lebih fleksibel sekaligus menyediakan produk di berbagai segmen harga agar masyarakat tetap memiliki pilihan, “pungkas Rida.
Pelemahan rupiah yang memicu kenaikan harga barang elektronik impor kini menjadi tantangan bagi pelaku usaha ritel di daerah. Sementara bagi konsumen, kondisi ini menuntut perencanaan belanja yang lebih cermat agar kebutuhan teknologi tetap terpenuhi di tengah tren harga yang terus meningkat.
Editor : ii Solihin
Artikel Terkait
