get app
inews
Aa Text
Read Next : SMP IT Al Mashduqi Garut Raih Penghargaan Sekolah Adiwiyata Nasional 2025

Atlet Berprestasi Usai PON Dinilai Minim Perlindungan, Kasus Siti Nur Rahayu Jadi Sorotan di Garut

Rabu, 04 Februari 2026 | 10:42 WIB
header img
Atlet Berprestasi PON Siti Nur Rahayu sedang berbaring. Foto iNewsGarut.id/ Yoga Sundawa

GARUT, iNewsGarut.id – Kasus yang dialami Siti Nur Rahayu, atlet rugby putri asal Kabupaten Garut, memunculkan sorotan terhadap sistem perlindungan atlet setelah masa kompetisi berakhir. Mantan atlet PON 2024 tersebut kini tengah berjuang melawan sakit serius tanpa jaminan kesehatan yang memadai.

Siti yang pernah memperkuat kontingen Jawa Barat pada ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) 2024 di Sumatera Utara dan Aceh, saat ini harus menjalani perawatan intensif akibat penyakit pecah usus yang dideritanya sejak dua bulan terakhir. Kondisi kesehatannya membuat ia hanya bisa beristirahat di rumah kediamannya di wilayah Tarogong Kidul, Garut.

Permasalahan tidak berhenti pada kondisi medis semata. Ketiadaan BPJS Kesehatan membuat keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan biaya pengobatan, termasuk rencana operasi yang harus segera dilakukan. Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai keberlanjutan jaminan dan perlindungan bagi atlet daerah setelah mereka tidak lagi aktif bertanding.

“Dulu fokus latihan dan bertanding membawa nama daerah. Sekarang saat sakit, kami harus berjuang sendiri,” ungkap Siti dengan nada lemah. Rabu (4/2/2026).

Sebagai satu-satunya atlet rugby asal Garut yang tampil di PON 2024, Siti sejatinya menjadi simbol keberhasilan pembinaan olahraga daerah. Namun realitas yang ia hadapi saat ini justru menunjukkan adanya celah dalam sistem pendampingan atlet, khususnya terkait jaminan kesehatan jangka panjang.

Ibu kandung Siti, Yeni Nurhayati, menyampaikan bahwa kondisi anaknya membutuhkan penanganan medis serius. Namun keterbatasan biaya membuat keluarga berada dalam posisi sulit.

“Anak saya butuh operasi. Kami hanya berharap ada perhatian dan bantuan agar pengobatan bisa dilanjutkan,” ujarnya.

Kasus ini memicu keprihatinan berbagai pihak dan dinilai dapat menjadi momentum evaluasi bagi pemerintah daerah serta pemangku kepentingan olahraga.

Perlindungan atlet dinilai tidak cukup hanya saat masa kompetisi, tetapi juga setelah prestasi diraih, termasuk aspek kesehatan dan kesejahteraan.

Banyak pihak berharap pengalaman yang dialami Siti Nur Rahayu dapat mendorong lahirnya kebijakan yang lebih berpihak pada atlet, sehingga pengabdian mereka untuk daerah tidak berakhir dengan kesulitan saat menghadapi masalah kesehatan.

Editor : ii Solihin

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut