Ribuan Warga Padati Garut, Kirab Mahkota Binokasih Hidupkan Sejarah Tatar Sunda
GARUT, iNewsGarut.id – Lautan manusia memenuhi ruas Jalan Ahmad Yani, Garut, Selasa (5/5/2026) malam. Ribuan warga dari berbagai penjuru tumpah ruah demi menyaksikan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda 2026, sebuah perhelatan yang tak hanya meriah, tetapi juga sarat nilai sejarah dan kebanggaan budaya.
Sorotan utama kirab ini adalah hadirnya Mahkota Binokasih, pusaka legendaris yang diarak langsung oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Dengan menunggang kuda kavaleri, ia memimpin iring-iringan menyusuri rute sekitar dua kilometer, dimulai dari Markas Korem 062 Tarumanegara hingga berakhir di Alun-alun Garut.
Mahkota Binokasih bukan sekadar simbol kerajaan. Benda bersejarah ini dikenal sebagai penanda penobatan Sri Baduga Maharaja pada tahun 1482 di Pakuan Pajajaran. Dibuat pada masa Kerajaan Galuh, mahkota tersebut kini tersimpan sebagai koleksi berharga di Museum Prabu Geusan Ulun.
Kirab dimulai sekitar pukul 19.30 WIB dan berlangsung semarak meski sempat diguyur hujan deras. Antusiasme warga tak surut. Mereka tetap bertahan di sepanjang rute, menantikan rombongan seni dari 27 kabupaten/kota se-Jawa Barat yang turut ambil bagian.
Penampilan kesenian tradisional seperti Surak Ibra menjadi pembuka yang memikat perhatian. Setibanya di Alun-alun Garut, berbagai pertunjukan budaya kembali digelar, menghadirkan nuansa hiburan sekaligus edukasi bagi masyarakat.
Bagi warga Garut, acara ini menjadi momen langka yang mengobati kerinduan terhadap kesenian tradisional yang kini semakin jarang tampil di ruang publik. Lebih dari sekadar tontonan, kirab ini menjadi upaya nyata menjaga warisan budaya Sunda agar tetap hidup dan dikenal generasi muda.
Rangkaian kegiatan sendiri telah berlangsung sejak 2 Mei, dimulai dari Sumedang, berlanjut ke Ciamis pada 3 Mei, dan Tasikmalaya pada 4 Mei. Puncaknya, Garut menjadi saksi kemeriahan saat Mahkota Binokasih disambut dengan antusias luar biasa.
Kirab ini menegaskan satu hal: di tengah arus modernisasi, akar budaya tetap memiliki tempat kuat di hati masyarakat. Tradisi bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk terus dirayakan.
Editor : ii Solihin