GARUT, iNewsGarut.id – Banyaknya informasi yang salah kaprah mengenai pemahaman beragama di media sosial (Medsos), menuntun cendekiawan muda Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Gus Nadirsyah Hosen atau Gus Nadir, aktif mengkampanyekan fikih sosial di era medsos.
“Selama ini fikih kita itu fikih ibadah, ada orang yang alim secara ritual, tetapi secara sosial bermasalah. Seakan akan semakin dia alim, semakin beragama, semakin jauh dari masyarakat,” ujarnya, saat ngaji bareng Gus Nadir ‘Memahami Peran Medsos dan Fiqih Sosial di Era Digital, di Pesantren Fauzan, Garut Rabu (20/11/2024).
Menurutnya, ajaran islam yang dibawa Rosululloh Muhammad SAW penuh kasih sayang dan perhatian kepada sesama, sehingga dibutuhkan pemahaman keagamaan yang menyeluruh terutama di era medsos saat ini.
“Belajar agama itu untuk membersihkan hati kita, orang mau membersihkan hati, karena dia mengakui ada yang kotor di hatinya, sehingga perlu dibersihkan,” ujar dia.
Saat ini ujar dia, medsos kerap dijadikan menjadi sumber utama informasi bagi masyarakat, tanpa penjelasan yang lengkap dan benar sesuai dengan ajaran agama.”Masyarakat harus bijak, harus cerdas. Misalnya soal boikot (produk) ini menjadi fenomena yang luar biasa,” kata dia.
Ia mencontohkan bagaimana emosi masyarakat Indonesia kerap tersulut persoalan perang Palestina dan Israel di wilayah Gaza, yang akhirnya menyebar menjadi isu ekonomi akibat banyaknya produk yang diboikot.
“Jangan sampai emosi kita itu menimbulkan kemadaratan, merespon masalah dengan masalah baru, rekan rekan kita banyak yang di PHK, tokonya tutup, jangan jangan terjadi perang dagang dibalut dengan boikot,” kata dia.
"Efeknya ada perusahaan menutup sekian gerai dan mem-PHK ribuan karyawan. Yang terjadi sodara-sodara kita di Indonesia yang bekerja di perusahaan itu jadi korban. Saya bukan tidak setuju dengan boikot, tapi harus boikot yang cerdas sehingga tidak ada efek merugikan bagi saudara-saudara kita," terang Gus Nadir.
Ketika MUI bilang harus boikot, jelas Gus Nadir, ini problemnya. "Emosi sudah naik, lalu bagaimana nasib saudara-saudara kita yang tiba-tiba jadi pengangguran, KPR belum lunas, anak-anaknya masih sekolah, ini kemudian menjadi fenomena sosial. Apa hukumnya orang yang ikut-ikutan boikot yang efeknya banyak orang yang kena PHK, kita ikut dosa tidak? Ini fenomena sosial dan kita harus hati-hati," jelasnya.
Editor : ii Solihin
Artikel Terkait