Ia menambahkan, gerakan tersebut sejalan dengan program pemerintah yang tengah mendorong penanaman dua miliar pohon di Indonesia sebagai upaya menjaga kelestarian lingkungan.
Selain pembentukan karakter ramah, santun, dan disiplin selama MPLS, pendidikan berwawasan lingkungan juga dinilai menjadi bekal penting bagi peserta didik agar tumbuh sebagai generasi yang bertanggung jawab terhadap alam.
Dalam kesempatan itu, narasumber juga menyampaikan pesan reflektif mengenai kondisi Sungai Cimanuk. Menurutnya, jika sungai bisa berbicara, sungai hanya ingin dirawat oleh manusia sebagai khalifah di bumi.
"Sungai bisa menjadi sumber kehidupan, tetapi juga bisa menjadi sumber bencana jika tidak dijaga. Air adalah kebutuhan utama setelah udara. Ketika sungainya bersih dan terawat, saat musim kemarau tidak kekeringan, saat musim hujan tidak terjadi banjir," ungkapnya.
Ia mengingatkan bahwa panjang sungai dari dulu hingga sekarang tetap sama, tetapi kondisinya semakin menyempit dan dangkal akibat aktivitas manusia. Karena itu, keberadaan Sungai Cimanuk yang berada tepat di depan SMPN 1 Bayongbong diharapkan menjadi titik awal lahirnya gerakan pelajar peduli sungai.
"Minimal mulai dari sekolah ini, Sungai Cimanuk bisa dijaga bersama. Jangan sampai sungai berubah menjadi tempat pembuangan sampah. Sungai harus tetap menjadi bagian dari peradaban yang memberi manfaat bagi kehidupan manusia," pungkasnya.
Editor : ii Solihin
Artikel Terkait
