Fauzi menjelaskan, menjaga suhu makanan penting untuk menghindari kondisi yang berpotensi meningkatkan pertumbuhan mikroorganisme serta mengurangi kemungkinan terjadinya kontaminasi silang.
“Selain masih hangat, ini juga untuk menghindari danger zone dan meminimalkan risiko kontaminasi silang,” jelasnya.
Hal menarik dari pola baru tersebut adalah keterlibatan siswa dalam proses pemorsian dan pembagian makanan. Namun, sebelum menjalankan peran tersebut, para siswa terlebih dahulu mendapatkan pendampingan dari tim SPPG.
Materi yang diberikan mencakup pengenalan komponen menu, ukuran atau gramasi setiap makanan, hingga angka kecukupan gizi (AKG).
Keterlibatan siswa ini sekaligus menjadi sarana edukasi agar mereka memahami bahwa menu MBG tidak sekadar makanan untuk mengenyangkan, tetapi setiap jenis makanan dan porsinya telah diperhitungkan berdasarkan kebutuhan gizi.
Karena masih berada dalam tahap uji coba, pendampingan terhadap siswa akan dilakukan selama beberapa hari. Setelah memahami tata cara pemorsian dan pembagian makanan, mereka diharapkan mampu menjalankan proses tersebut secara lebih mandiri.
Salah seorang siswa MTsN 4 Garut, Dika, mengaku senang dengan sistem prasmanan yang diterapkan. Ia menilai makanan terasa lebih segar karena dapat langsung diambil dan disantap.
Editor : ii Solihin
Artikel Terkait
