get app
inews
Aa Text
Read Next : Polres Garut Gelar Pasukan Operasi Lodaya 2025 Jelang Mudik Lebaran

Riwayat Stasiun Cikajang, Stasiun Tertinggi di Asia Tenggara yang Ditutup Tahun 1982

Minggu, 09 Oktober 2022 | 09:12 WIB
header img
Kondisi Stasiun Cikajang terkini dengan kondisi sebagian atap rusak dan hilang. Warna catnya yang pudar dan kusam telah penuh dengan coretan gambar. (Foto.iNewsGarut.id/Dindin)

GARUT,iNewsGarut.id – Berada di ketinggian 1.246 meter di atas permukaan laut (mdpl), Stasiun Cikajang merupakan stasiun kereta api tertinggi yang pernah ada di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Namun, stasiun yang berada di Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa Barat, ini telah nonaktif sejak ditutup di 1982 silam. 

Terletak di Kampung Padasono, Desa Padasuka, Kecamatan Cikajang, jarak stasiun ini hanya sekira 50 meter dari Jalan Raya Cikajang. Saat masih berfungsi, Stasiun Cikajang merupakan stasiun paling ujung di Kabupaten Garut.

Stasiun Cikajang dibangun pada masa kolonial pemerintah Belanda di tahun 1926. Stasiun ini dibangun bersamaan dengan pembangunan lintas Garut–Cikajang, sebagai hasil dari percobaan jalur kereta api ekstrem lintas pegunungan, serta menjaring pusat perekonomian ketiga di Garut yaitu daerah Cikajang.

Jalur ini pun dibuka pada tanggal 1 Agustus 1930. Ketika masih aktif hingga tahun 1980-an, Stasiun Cikajang selalu ramai dikunjungi oleh pengguna jasa angkutan yang hendak bepergian dengan kereta api.

Hingga akhirnya stasiun ini ditutup pada tahun 1982 karena sarana yang sudah tua dan kalah bersaing dengan mobil pribadi dan angkutan angkutan umum yang kala itu mulai berkembang. Spot di jalur ini sebenarnya sangat indah, sehingga menarik perhatian para railfans dari luar negeri untuk menyaksikan aksi lokomotif uap di jalur ini.

Guru Besar Program Studi Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Prof Kunto Sofianto, M.Hum, Ph.D, menuturkan, pembangunan jalur KA Cibatu, Garut, dan Cikajang merupakan bagian dari rencana pembangunan KA jalur Priangan dan Cilacap.

Pembangunan jalur Priangan-Cilacap dibangun dalam dua tahap, yakni tahap pertama antara Cicalengka dan Garut di 1887-1889, dan tahap kedua antara Warungbandrek dan Cilacap pada 1889-1893.

"Meskipun pada 1887 dimulai pengerjaan jalur antara Cicalengka dan Cilacap, namun pembangunan jalur KA Cicalengka, Cibatu, dan Garut didahulukan, kata Prof Kunto Sofianto belum lama ini.

Kunto menyebut setelah pembangunan KA jalur Cicalengka ke Garut selesai, maka pada 1889 jalur itu mulai beroperasi. Kemudian pembangunan jalur KA dilanjutkan untuk lintas Garut ke Cikajang, dengan konstruksi untuk jalur itu dimulai pada 1914 setelah dilakukan survey lapangan.

"Daerah yang dilewati jalur KA Garut ke Cikajang dinilai sangat menguntungkan karena akan menghidupkan ekonomi di daerah sekitarnya, mengangkut hasil perkebunan, dan juga menghidupkan sektor pariwisata, ujarnya.

Menurut Kunto, kendala yang dihadapi oleh para pekerja ketika itu adalah adanya wabah penyakit akibat keadaan cuaca yang sedang musim hujan sehingga terjadi keterlambatan konstruksi. Dari survey lapangan tentang Amdal dan kelayakan studi tentang data ekonomi dan perdagangan untuk pengoperasian jalur KA Garut ke Cikajang dinilai sudah layak.

Selama proses pengukuran, tambahnya, ditentukan juga perkiraan biaya konstruksi dan persiapan biaya operasi yang terus berlangsung. Pengeluaran biaya pada jalur Garut-Cikajang sebesar 16715,31 gulden.

Biaya konstruksi pada 1917 sebesar 407,19 gulden dan siap untuk pemasangan rel pada awal 1918. Konstruksi jalur KA Garut ke Cikajang hingga 1919 sepanjang 32 Km dan biaya pembangunannya diperkirakan sebesar 4.000.000 gulden.

"Oleh karena biaya operasional konstruksi jalur KA Garut ke Cikajang dianggap terlalu besar dan belum bisa tertangani akibat keterbatasan dana, maka konstruksi jalur KA Garut ke Cikajang dihentikan untuk sementara waktu," ungkapnya.

Pada 1925, lanjut dia, dilakukan kembali perencanaan pembangunan jalur KA Garut ke Cikajang dengan panjang jalur sekitar 28 km. Adapun pengerjaannya dilakukan pada 1926 oleh perusahaan KA di Hindia Belanda, yaitu Staasspoorwegwn (S.S).

Konstruksi pemasangan rel pada kilometer yang baru pada jalur kereta api Garut ke Cikajang pun terus dilakukan. Prof Kunto menuturkan, pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan jalur Garut ke Cikajang selesai dibangun dan diresmikan pada 31 Juli 1930.

Pada acara peresmian tersebut dihadiri oleh para petinggi S.S. dan barulah di 1 Agustus 1930 jalur KA Garut ke Cikajang resmi dibuka untuk lalu lintas umum. Prof Kunto menjelaskan, pembangunan jalan kereta api oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada masa itu bertujuan untuk menciptakan sarana angkutan umum massal, terutama guna mengangkut hasil perkebunan dari daerah Garut Selatan, seperti di Cikajang, Cisompet, dan Pameungpeuk yang laku untuk pasaran Eropa.

"Hasil perkebunan berupa teh, kina, dan karet diangkut dari stasiun Cikajang ke Stasiun Garut," ucapnya.

Dari Stasiun Garut, lanjutnya, kemudian hasil perkebunan itu diangkut ke Stasiun Cibatu untuk dikirim ke Batavia (Jakarta). Selain mengangkut barang, kereta api pada masa itu juga digunakan untuk mengangkut orang, seperti pedagang, pekerja atau mereka yang mempunyai kepentingan tertentu.

Selain itu, layanan KA juga sangat bermanfaat pula bagi para pelajar yang meneruskan sekolah di perkotaan Garut. Prof Kunto menyebutkan, sekurang-kurangnya ada empat faktor yang menyebabkan terhentinya aktifitas kereta api dari Stasiun Garut ke Cibatu dan Cikajang (dan sebaliknya).

Pertama, telah usangnya lokomotif dan rel-relnya serta habis masa pakainya. Hal itu dikarenakan semua lokomotif yang mulai dioperasikan sejak masa pemerintah kolonial Belanda belum pernah diganti dengan yang baru.

"Selain itu, sejak kemerdekaan RI sampai 1980-an rel-relnya belum pernah diperbaiki atau diganti dengan yang baru sehingga semakin lama semakin tidak memadai lagi untuk dipakai," katanya.

Karena sudah tidak ada lagi lokomotif yang siap beroperasi, ditambah dengan adanya letusan Gunung Galunggung pada tahun 1982, yang berakibat pada rusaknya sarana serta prasarana kereta, serta dampak abu vulkanik pada air untuk digunakan pada lokomotif uap, maka jalur ini pun ditutup pada tahun 1982.

Kini, Stasiun Kereta Api Cikajang hanya tinggal kenangan. Stasiun ini telah ditutup selama 40 tahun seiring dengan dihentikannya operasional jalur Cibatu-Cikajang pada 1982.

Meskipun bangunannya hingga saat ini masih berdiri kokoh, namun bagian atapnya sudah rusak bahkan hilang. Warna catnya pun telah sangat kusam dan penuh dengan coretan dan gambar.

Seiring berjalannya waktu, jalur rel pun sudah banyak yang rusak dan berkarat. Bahkan hampir di sepanjang jalur rel kereta api Cikajang ini telah banyak berdiri permukiman warga.

Sejumlah warga pun berharap, stasiun yang pernah menjadi kebanggan masyarakat Cikajang tersebut bisa beroperasi kembali untuk memudahkan akses transportasi massal selain mobil dan angkutan umum.

"Kawasan Cikajang dan sekitarnya memiliki banyak hasil bumi yang harus didukung dengan transportasi massal seperti kereta api agar pertumbuhan ekonomi di Garut umumnya, dan khususnya di Cikajang berkembang pesat," ujar Aam (52), salah seorang warga Kecamatan Cikajang. 

Editor : ii Solihin

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut