GARUT, iNewsGarut.id – Badan Gizi Nasional (BGN) mulai menguji pola baru dalam penyaluran program Makan Bergizi Gratis (MBG). Salah satu metode yang kini diuji coba adalah sistem prasmanan yang memungkinkan siswa mengambil makanan secara langsung sesuai takaran yang telah ditentukan.
Uji coba tersebut berlangsung di MTsN 4 Garut, dengan penyediaan makanan dilakukan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cibunar 1, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut.
Penerapan metode ini berbeda dengan pola pembagian sebelumnya yang menggunakan wadah makan atau ompreng untuk masing-masing siswa. Dalam sistem prasmanan, makanan ditempatkan pada meja penyajian, kemudian siswa mengambil menu dengan porsi yang telah disesuaikan berdasarkan kebutuhan gizi.
Kepala SPPG Cibunar 1, Fauzi Muhammad Rizki, mengatakan pelaksanaan perdana uji coba tersebut berjalan lancar. Pihak sekolah dan para siswa juga memberikan respons positif terhadap metode baru tersebut.
“Alhamdulillah untuk kegiatan pilot project MBG prasmanan di MTsN 4 Garut berlangsung dengan baik. Responsnya juga sangat bagus,” kata Fauzi, Senin (5/10/2026).
Menurutnya, salah satu pertimbangan utama penerapan sistem prasmanan adalah mempercepat proses distribusi makanan kepada para siswa. Sebab, pembagian menggunakan sistem ompreng sebelumnya membutuhkan waktu yang cukup panjang, bahkan bisa lebih dari dua jam.
Melalui pola prasmanan, waktu pendistribusian diharapkan dapat dipersingkat sehingga proses makan bersama di lingkungan sekolah menjadi lebih efektif.
“Dengan pilot project MBG prasmanan ini, waktunya bisa kita pangkas dan diharapkan dapat ditekan di bawah dua jam,” ujarnya.
Selain persoalan waktu, SPPG juga memperhatikan kondisi makanan sebelum dikonsumsi. Suhu makanan diupayakan tetap berada pada angka 60 derajat Celsius atau lebih ketika disantap.
Fauzi menjelaskan, menjaga suhu makanan penting untuk menghindari kondisi yang berpotensi meningkatkan pertumbuhan mikroorganisme serta mengurangi kemungkinan terjadinya kontaminasi silang.
“Selain masih hangat, ini juga untuk menghindari danger zone dan meminimalkan risiko kontaminasi silang,” jelasnya.
Hal menarik dari pola baru tersebut adalah keterlibatan siswa dalam proses pemorsian dan pembagian makanan. Namun, sebelum menjalankan peran tersebut, para siswa terlebih dahulu mendapatkan pendampingan dari tim SPPG.
Materi yang diberikan mencakup pengenalan komponen menu, ukuran atau gramasi setiap makanan, hingga angka kecukupan gizi (AKG).
Keterlibatan siswa ini sekaligus menjadi sarana edukasi agar mereka memahami bahwa menu MBG tidak sekadar makanan untuk mengenyangkan, tetapi setiap jenis makanan dan porsinya telah diperhitungkan berdasarkan kebutuhan gizi.
Karena masih berada dalam tahap uji coba, pendampingan terhadap siswa akan dilakukan selama beberapa hari. Setelah memahami tata cara pemorsian dan pembagian makanan, mereka diharapkan mampu menjalankan proses tersebut secara lebih mandiri.
Salah seorang siswa MTsN 4 Garut, Dika, mengaku senang dengan sistem prasmanan yang diterapkan. Ia menilai makanan terasa lebih segar karena dapat langsung diambil dan disantap.
“Rasanya sangat enak karena semuanya masih enak, masih fresh. Buah-buahannya, sambal, sayurannya juga banyak,” kata Dika.
Ia juga menilai sistem prasmanan lebih praktis dibandingkan mekanisme pembagian makanan yang sebelumnya diterapkan.
MTsN 4 Garut sendiri memiliki sekitar 21 kelas. Tim pendamping dari SPPG akan terus memberikan pemahaman kepada siswa mengenai tata cara pengambilan, pemorsian, serta pembagian makanan.
Jika hasil evaluasi menunjukkan sistem tersebut berjalan efektif, pola prasmanan berpeluang dikembangkan untuk mendukung penyaluran MBG yang lebih cepat, tertib, sekaligus memberikan edukasi gizi dan kemandirian kepada para siswa.
Editor : ii Solihin
Artikel Terkait
