BMKG Gelar Sekolah Lapang Gempa di Garut, Warga Didorong Pahami Potensi Bencana dan Mitigasi
Peserta Sekolah Lapang Gempa Bumi melibatkan para penggiat kebencanaan dan sejumlah pemangku kepentingan. Mereka diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya memperluas edukasi kebencanaan di tengah masyarakat.“Harapannya kita bisa membangun keluarga cerdas bencana,” kata Suaidi.
Sementara itu, Anggota DPR RI Komisi V, Ade Ginanjar, mengatakan kegiatan Sekolah Lapang Gempa Bumi menjadi sarana penting untuk memberikan sosialisasi dan pengetahuan kepada masyarakat mengenai langkah yang harus dilakukan saat menghadapi bencana.
Menurut Ade, masyarakat perlu memahami cara menyikapi situasi darurat, terutama setelah mendapatkan informasi atau peringatan dari alat maupun sistem peringatan dini.
“Dalam rangka sosialisasi dan memberikan pengetahuan kepada masyarakat. Tadi yang disampaikan, bagaimana ketika menghadapi bencana, dengan sebelumnya nanti ada pemberitahuan dari alat atau sistem. Tapi masyarakat sudah tahu bagaimana dia harus menyikapinya. Itu maksud tujuan sekolah ini,” ujar Ade.
Ade menambahkan, BMKG merupakan salah satu mitra Komisi V DPR RI. Karena itu, pihaknya terus mendorong penguatan sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) di berbagai daerah yang memiliki potensi bencana.
Ia menyebut, dukungan terhadap pengadaan dan penambahan perangkat EWS telah dibahas dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi V DPR RI.
“Dukungan yang paling terutama itu adalah alat-alat EWS. Ini harus segera ditambah, daripada kebutuhan anggaran BMKG. Karena masyarakat di setiap daerah, bukan hanya Garut, se-Indonesia ini harus ada beberapa peta yang menjadi prioritas dipasangnya alat-alat EWS tersebut,” katanya.
Menurut Ade, dukungan tersebut telah masuk dalam kesepakatan dan kesimpulan akhir RDP Komisi V DPR RI untuk kemudian disampaikan kepada Kementerian Keuangan dan Bappenas.
Editor : ii Solihin