Ketua Pelaksana Pasanggiri Jaipongan, Ade Suwendi, menjelaskan kompetisi dibagi dalam kategori tunggal dan rampak, untuk kategori tunggal, peserta berasal dari jenjang TK/PAUD hingga SMA, dengan total 41 peserta yang terbagi dalam empat kategori. Selain itu, terdapat lima grup yang mengikuti kategori rampak.
Para juri juga didatangkan dari Bandung dan memiliki latar belakang pendidikan seni tari, di antaranya dari ISBI dan UPI, Ade mengatakan kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai perlombaan lokal. Hasil pelaksanaan akan dilaporkan kepada dinas terkait untuk membuka peluang adanya pembinaan dan tindak lanjut bagi peserta berprestasi.
Melihat tingginya antusiasme peserta, Pemerintah Desa Banjarsari berencana menjadikan Pasanggiri Jaipongan sebagai agenda rutin, Ade menyebut kegiatan serupa setidaknya dapat digelar satu kali dalam setahun, bahkan berpeluang dua kali dengan menyesuaikan kalender pendidikan dan masa libur sekolah.
Pemilihan hari Minggu sebagai waktu pelaksanaan juga dilakukan agar peserta yang sebagian besar masih berstatus pelajar dapat mengikuti kegiatan tanpa mengganggu aktivitas sekolah.
Pelaksanaan kegiatan tersebut turut mendapat dukungan dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Garut, termasuk pemberian piagam yang ditandatangani Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Garut.
Hajat Desa Banjarsari tahun ini tidak hanya diisi Pasanggiri Jaipongan. Berbagai kegiatan digelar dalam rangkaian acara, mulai dari kreasi seni setiap RW, perlombaan Agustusan, gelar budaya, karnaval hingga Taplig Akbar.
Sementara itu, Ketua Pelaksana Hajat Desa 2026, Indra Ahmad Lesmana, menyampaikan rangkaian kegiatan tahun ini mengusung semangat persatuan dan gotong royong.
Editor : ii Solihin
Artikel Terkait
