Salah satu gagasan yang diangkat adalah “Saika Sapa Milu”, yang dimaknai sebagai kebersamaan dan persatuan masyarakat Banjarsari. konsep tersebut diwujudkan melalui pertunjukan budaya dan tradisi kawin bumi, yang melibatkan masyarakat dari delapan RW.
Menurut Indra, kegiatan tersebut sekaligus menjadi upaya membangkitkan kembali kesenian dan budaya Banjarsari yang sempat tidak terdengar.
“Kita mengharapkan adanya kerja sama atau gotong royong. Itu budaya kami yang sesungguhnya,” ujarnya.
Karnaval yang selama ini menjadi ciri khas Hajat Desa Banjarsari pun tetap dipertahankan. Selain menjadi bagian dari perayaan, karnaval dinilai sebagai bentuk penghormatan terhadap para sesepuh dan pelaku seni yang sejak awal menjadikan kegiatan tersebut sebagai sarana menyatukan masyarakat.
Dengan rangkaian kegiatan tersebut, Hajat Desa Banjarsari ke-94 tidak hanya menjadi momentum perayaan hari jadi desa, tetapi juga menjadi ruang untuk merawat seni, budaya dan kebersamaan masyarakat agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Editor : ii Solihin
Artikel Terkait
