SMKN 4 Garut Perkuat Konservasi Kukang Jawa Lewat Konsultasi Publik di Karacak Valley
Kepala Seksi Madya Perencanaan dan Pengembangan Bisnis Perhutani KPH Garut, Saryana, menegaskan komitmen Perhutani dalam mendukung pengembangan Wisata Alam Karacak Valley yang berada di kawasan hutan lindung RPH Karangpawitan, BKPH Cibatu.
Menurutnya, kawasan tersebut memiliki potensi besar sebagai lokasi pengamatan keanekaragaman hayati sekaligus pusat edukasi konservasi berbasis lingkungan.
“Perhutani berkomitmen mendukung pemanfaatan kawasan hutan dengan memberikan akses serta pendampingan dalam pengelolaannya agar setiap aktivitas berjalan sesuai prinsip keberlanjutan. Selain itu, Perhutani terbuka untuk membangun kerja sama dengan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap upaya konservasi dan perlindungan keanekaragaman hayati,” ujar Saryana.
Ia menegaskan, Perhutani berperan sebagai fasilitator dengan menyediakan lokasi dan akses kegiatan, tanpa mencampuri substansi penelitian yang dilakukan oleh pihak lain.
Melalui konsultasi publik ini, SMKN 4 Garut berharap dapat menghimpun berbagai masukan konstruktif dari kalangan akademisi, komunitas lingkungan, pemerintah, dan masyarakat. Masukan tersebut diharapkan dapat memperkuat sinergi dan kolaborasi dalam upaya pelestarian Kukang Jawa beserta ekosistem hutan Karacak Valley secara berkelanjutan.
Sementara itu, Ketua Tim Pelaksana Konsultasi Publik Biodiversity, Dadan Arief NM, menjelaskan bahwa Kukang Jawa merupakan primata endemik Jawa Barat yang masuk dalam daftar 25 primata paling terancam punah di dunia dengan status kritis (critically endangered). Kondisi tersebut dipicu oleh berbagai faktor, seperti perdagangan ilegal, perburuan liar, serta fragmentasi hutan akibat alih fungsi lahan menjadi kawasan monokultur.
“Berdasarkan informasi dari masyarakat mengenai aktivitas perburuan pada malam hari, tim melakukan survei lapangan sejak Juli hingga Desember 2025. Hasilnya, tim berhasil mendokumentasikan sembilan individu Kukang Jawa, yang mengonfirmasi keberadaan populasi satwa tersebut di lokasi penelitian,” ujarnya.
Editor : ii Solihin